Header Ads

PRODUKSI TELUR ULAT SUTERA DISKRIMINASI KELAMIN (SEXING)


PRODUKSI TELUR ULAT SUTERA DISKRIMINASI KELAMIN (SEXING)




Seiring dengan perkembangan mode, peningkatan kebutuhan tekstil, serta diversifikasi bahan sandang, pemanfaatan potensi ulat sutera secara bertahap mulai muncul perhatian. Dalam bududaya ulat sutera sendiri terdapat beberapa hal yang harus diketahui antara lain tentang produksi daun murbey sebagai pakan utama ulat sutera, produksi kokon, produksi benang, penyakit murbey, penyakit ulat sutera seta produksi telur.

Produksi telur dalam budidaya ulat sutera juga memegang hal penting, dikarenakan budidaya ulat sutera tidak akan bisas berjalan tanpa adanya produksi telur. Didalam produksi telur ini memiliki beberapa sub anatara lain macam bibit, sexing, perkawinan kupu, dan penetasan telur ulat sutera.

Sexing pada produksi telur ulat sutera sangat diperlukan. Sexing adalah pemisahan betina dari jantan di dalam varietas yang sama. Maka dari itu makalah kami ini akan membahas mengenai diskriminasi kelamin/sexing didalam produksi telur ulat sutera.

Pengertian Diskriminasi Kelamin (Sexing) 

Ulat Sutera adalah ngengat yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra. Makanan dari ulat sutra hanyalah daun murbei (Morus alba). Didalam budidaya ulat sutera dibagi menjadi beberapa bagian antara lain produksi daun murbey, produksi kokon, produksi benang, penyakit murbey, penyakit ulat sutera, dan produksi telur. Disini kami akan sedikit membahas mengenai produksi telur pada ulat sutera. Didalam produksi telur ulat sutera sendiri terdapat beberapa prosedur yang perlu dijalankan salah satunya adalah diskriminasi kelamin atau sexing. 

Diskriminasi sex atau sexing sendiri adalah suatu ukuran tehnis yang penting pada produksi telur F1 ulat sutra hybrid. Sehingga sesing sangat perlu dilakukan dalam produksi telur ulat sutera. Sexing adalah pemisahan betina dari jantan di dalam varietas yang sama. Tujuan dari diskriminasi sex atau sexing ini adalah untuk memisahkan antara betina dan juga jantan, dan mengetahui pemeliharaan yang tepat untuk masing-masing kelamin. 

Metode-Metode Dalam Diskriminasi Kelamin (Sexing) 

Penentuan jenis kelamin perlu dilakukan oleh para peternak ulat sutera. Secara umum Diskriminasi Kelamin (Sexing) ini terdapat beberapa metode yang sering digunakan oleh peternak ulat sutera. Adapun metode-metode tersebut antara lain: 

1. Diskriminasi Kelamin Melalui Karakteistik Eksternal Larva 
2. Diskriminasi Kelamin Melalui Karakteistik Eksternal Pupa 
3. Diskriminasi Kelamin Melalui Karakteistik Eksternal Kokon 

Diskriminasi Kelamin Larva 

Larva adalah tahap aktif pertama siklus hidup serangga dan dimulai setelah telur menetas. Tujuan utama memiliki tahap larva mungkin untuk memberi makan dan mengumpulkan energi, yang digunakan dalam tahap kehidupan selanjutnya. Biasanya kebanyakan serangga menghabiskan hidup mereka sebagai larva, karena merupakan tahap yang paling produktif dalam siklus hidup mereka. Adapun perbedaan dari ulat sutera jantan maupun betina yaitu dengan melihat bagian abdominal, yaitu pada larva betina terdapat sepasang bintik pada segmen ke-11 dan segmen ke-12 yang disebut kuncup imaginal ishiwata. Sedangkan pada jantan terdapat sebuah bintik pada segmen ke-11 dan segmen ke-12 yang disebut kelenjar herold. 

Adapun perbedaan karakteristik eksternal pada larva ulat sutera betina dan jantan adalah sebagai berikut. 

Betina : Pada sisi ventral abdomen larva betina, pada segmen ke delapan dan ke sembilan, terdapat sepasang noktah melingkar kecil pada kedua sisi kiri dan kanan. Noktah tersebut dinamakan kelenjar depan (foregland) Ishiwata.

Jantan : Pada larva jantan, terdapat badan folikuler berwarna putih susu yang disebut kelenjar Herold di pusat sisi ventral pada persambungan segmen ke delapan dan ke sembilan.


Melalui observasi karakteristik kelenjar reproduktif yang berbeda antara larva jantan dan betina, maka diskriminasi kelamin larva dapat dilakukan dengan mata telanjang dari instar keempat akhir hingga instar kelima. 

Diskriminasi Kelamin Pupa 

Pupa (pupae) adalah tahap berpuasa antara larva dan dewasa dalam metamorfosis serangga, di mana larva biasanya mengalami transformasi lengkap dalam kepompong pelindung atau selubung keras. Selama proses transformasi ini, pertama sel larva pecah ke dalam sel yang berbeda-beda. Sel-sel ang berdiferensiasi kemudian dibedakan menjadi sel-sel yang akhirnya membentuk bentuk fisik baru. Pupa biasanya tidak makan dan bergerak. Kecuali larva tinggal di sebuah batang atau akar, ini membangun cangkang pelindung yang disebut kepompong. 


Adapun perbedaan dai pupa jantan dan pupa betina ulat sutera adalah sebagai berikut. 

Pupa ulat sutra betina lebih besar dari pada pupa jantan, warna kulit pupalnya (cuticle) adalah lebih terang, dan segmen abdominal posterior bentuknya lebih bulat. Secara ventral, pada pusat segmen abdominal ke delapan, terdapat tanda berbentuk X yang memanjang dari margin segmen anterior ke posterior.

Pupa ulat sutra jantan adalah lebih kecil dari pada yang betina, segmen abdominal terakhir agak lancip, dan pada pusat segmen ventral ke sembilan terdapat noktah kecil coklat, kelenjar Herold. Menurut sifat eksternal – bentuk badan dan tanda jelas kelenjar reproduktif - adalah mungkin untuk membedakan kelamin pupa ulat sutra.


Secara morfologi, antara pupa betina dan pupa jantan nampak jelas perbedaannya. Pupa betina ada garis vertikal yang memotong pusat dari bagian vertal segmen ke-8, sedang alat kelamin nampak di segmen ke-9. Sedangkan pada jantan alat kelamin hanya ada di segmen ke-9. Selain dari itu pupa betina biasanya lebih besar daripada pupa jantan. 



Diskriminasi Kelamin Kokon Benih Ulat Sutera 

Kokon merupakan hasil pemeliharaan ulat sutera ( Bombyx mori L ), dibentuk dari serat sutera yang dikeluarkan oleh ulat instar 5 akhir ( ulat matang ), terdiri dari fibrion dan serisin. Kokon ini merupakan bahan buku benang sutera melalui proses pementalan 

Perbedaan kokon antara jantan dan betina : kokon betina biasanya lebih besar dan lebih berat dari pada jantan dari ras yang sama, khususnya di antara ras-ras multivoltin, maka perbedaan ini dapat digunakan untuk memisahkan kokon betina dari kokon jantan dengan penimbangan. 

Mesin Sexing Kokon 

Mesin sexing popular digunakan pada farm produksi telur ulat sutra di Propinsi Guangdong, China. Penggunaan mesin sexing dapat membuat pekerjaan lebih efisien dan kupu dapat keluar dari kokonnya sendiri tanpa digunting. Jika kupu muncul dari kokon tanpa gunting, rataan kecepatan produksi telur dapat mendekati 20 persen lebih tinggi dari pada jika kokon dibuka dengan cara digunting. Dikarenakan resiko pupa terluka akan berkurang. 

Sebelum sexing mekanis digunakan, beberapa contoh kokon diambil secara acak dari batch benih kokon yang sama hari penaikannya. Kriteria bobot kokon yang akan dideterminasi berdasarkan kisaran bobot antara kokon betina dan jantan. Bobot ini akan digunakan sebagai bobot diferensiasi untuk separasi 17 kelamin kokon benih yaitu kokon yang lebih berat dari kriteria masuk ke kelompok betina, yang lebih ringan adalah jantan. Kokon dengan berat yang sama dengan kokon kriteria termasuk kelompok campuran dari kedua kelamin. Evaluasi tepat kriteria kokon mempunyai efek pada kerja keseluruhan. Bobot kriteria harus mempertahankan kecepatan sexing 90 persen atau lebih tinggi. Pada waktu yang sama, kecepatan sexing kelompok campuran harus terkontrol 10 persen atau kurang. Jika persyaratan di atas tidak dapat dipenuhi, maka aplikasi separasi sex mekanis menjadi tidak nyata.

Bagian-bagian Mesin Sexing 

Mesin sexing kokon terdiri dari sumbu putar utama, bagian atas yang melekat pada piringan berpeforasi. Melekat pada bagian ini lengan baja kecil tipe-lever, menggantung dengan interval regular/teratur. Jika mesin dioperasikan, motor listrik kecil mengatur piring berongga berotasi dan lempengan baja kecil berputar bersama-sama. Menurut prinsip lever, lempeng baja yang berputar dapat mengukur bobot kokon secara otomatis.

Efisiensi mesin pemisah jenis kelamin kokon 

Mesin pemisah jenis kelamin kokon ini berputar pada kecepatan 14,5 putaran per menit. Bila ras ulat sutra tertentu mempunyai rataan 740 kokon per kilogram, maka efisiensi mesin pemisah jenis kelamin dapat dihitung sebagai berikut : 

- Jumlah siklus rotasi piringan berputar per jam : 60 X 14,5 = 870 siklus 
- Jumlah kokon melintas melalui mesin per jam : 870 x16 = 13 920 kokon
- Jumlah kokon benih terpisah per hari kerja ; 13 920 x8 = 111 360 kokon.

Sekarang, pada praktek produksi, efisiensi kerja mesin pemisah jenis kelamin berbeda agak banyak dari efisiensi teoritis, karena mesin harus dijustifikasi sebelumnya ke operasi pemisahan setiap jenis kelamin kokon. Lebih jauh, pekerja yang menjatuhkan kokon ke dalam pan secara manual adalah lebih lambat dari pada kecepatan mesin yang berotasi. Jika mesin dapat diperbaiki dengan sejenis peralatan kombinasi (termasuk pelayanan kokon otomatis), maka efisiensi separasi jenis kelamin kokon secara mekanis akan meningkat pesat.

Pemisahan jenis kelamin dengan penimbangan kokon individual 
Timbangan kokon tunggal dapat pula digunakan untuk separasi jenis kelamin. Hal ini juga dirancang dengan prinsip keseimbangan. Meskipun kecepatan efisiensinya jauh lebih rendah, tetapi mudah dilakukan dan sangat akurat.



DAFTAR PUSTAKA 

Anonymous. 2006. Inkubasi Tetua Telur Ulat Sutra. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Bank Indonesia. 2007. Budidaya Ulat Sutera dan Produksi Kokon. Direktorat Kredit, BPR dan UMKM.
Cholis, Nur. Sri Minarti dan Muchammad Junus. 2012. Ilmu Dasar Aneka Ternak. Fakultas Peternakan, Unieversitas Brawijaya: Malang.
Desiana, Raden Ruvita. 2008. Produktivitas Dan Daya Tetas Telur Ulat Sutera Liar (Attacus Atlas) Asal Purwakarta Pada Berbagai Jenis Kandang Pengawinan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Melani, Shilpi. 2006. Kualitas Kokon Hibrid Ulat Sutera (Bombyx mori L.) Bedasarkan Umur Kokon. Skripsi, Departeemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Nurjayanti, Eka Dewi. 2011. Budidaya Ulat Sutera Dan Produksi Benang Sutera Melalui Sistem Kemitraan Pada Pengusahaan Sutera Alam (Psa) Regaloh Kabupaten Pati. Budidaya Ulat Sutra. Vol.7(2):1-10.
Purwanti, Retno. 2007. Respon Pertumbuhan dan Kualitas Kokon Sutera (Bombyx mori L.) dengan Rasio Pemberian Pakan yang Berbeda. Skripsi, Departeemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Sakinah. 2009. Kualitas Kokon Ulat Sutera Liar (Attacus atlas L.) Menggunakan Alat Pengokon Yang Berbeda. Skripsi, Departeemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Setiorini, Nuniek. 2009. Karakteristik Kokon Ulat Sutyera Liar (Attacus atlas) Hasil Pengokonan Di Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan IPB. Skripsi, Departeemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
Wibowo,Indro Heri.dkk.2004. Pengaruh Suhu dan Fotoperiode terhadap Lama Stadia Telur Ulat Sutera Emas (Cricula trifenestrata Helf.). Jurnal Peternakan. Vol. 6(1):71-74.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.